← Back to Karya

ibu kota tidak berpihak pada anak gadisnya yang sedang berdarah

· #thesupperbookessay ·

bu, apakah ibu ingat pertama kali aku menjadi seorang gadis? bu? bu? bu? ah, iya maaf aku lancang mengajakmu berbincang di jam kerjamu belakangan, kau begitu sibuk ada banyak pikiran di setiap lajur pemikirranmu hiruk pikuk ini membuatmu jauh denganku

kau terdiam jauh kemarin temanku bertanya tentangmu aku jadi ikutan sibuk mencari kata-kata yang tidak menimbulkan kesan bahwa aku anak perempuan yang durhaka

aku merasakan kehadiranmu dari berita bukan lagi dari belaian jemarimu di alisku aku mengenali kesibukanmu dari mereka bukan lagi dari obrolan makan malam di meja

bu, hari ini aku meringkuk sambil berdarah di kasur dan aku tidak berani menghubungimu karena jam kerjamu adalah dua puluh empat jam padahal yang kuinginkan adalah teh hangat dari racikan tanganmu yang kemudian membelai pelipisku yang kemudian memberikanku kehangatan yang kemudian menidurkanku begitu lelah yang kemudian menimangku dengan amat lembut tapi kau lembur lagi dan derasnya darah yang mengalir dari situ-ku tak cukup kuat untuk jadi alasanmu pulang lebih cepat

apabila akhirnya kau menganggapku anak perempuan yang durhaka karena tidak mengikuti aturanmu aku sudi bu, aku pasrah dengan kesibukanmu dan segala hal yang kau buru selagi kau melakukan itu semua biarkan aku, anak perempuanmu, meringkuk di atas kasur selagi berdarah sambil membenahi luka-luka yang kausebabkan

bu, aku memang lahir dari rahimmu tapi semoga aku tidak jadi sepertimu

Bagikan / Share

Suka tulisan ini? Ikuti @thesupperbookcult untuk info gathering selanjutnya.

Reading Options