Ku Berduka
Aku masih kebingungan bagaimana menanggapi rasa dari sebuah kehilangan. Kehilangan yang pernah aku alami sebelumnya kartu kepergian kucing kesayanganku. Aku ingat bagaimana Papa harus mengeliling lingkungan rumah kami, untuk memastikan kalau kucingku baik-baik saja. Karena malam itu, dia tidak pulang untuk tidur di kasurku seperti biasanya.
Aku masih belum bisa mencerna hal-hal dengan baik, panggilan telepon yang hanya berlangsung 1 menit 20 detik membawaku pulang. Airport hari itu bukan tempat favorit yang ingin ku datangi, masih ringan kakiku sampai duduk di window seat yang aku pilih.
Waktu favoritku untuk tidur di pesawat adalah ketika pesawat mulai lepas landas, tepatnya ketika aku merasa pesawat itu sedang berlari. Tepat sebelumnya, pesawat akan terasa berjalan lambat dan suasananya seperti di ayunan, bagian ini akan membuatku mengantuk. Perasaanku setiap kali itu terjadi, seperti perasaan menggebur-gebur, terburu-buru, mengejar yang entah apa. Biasanya aku akan menutup mata untuk tidur dan berharap manusia di sebelahku adalah manusia apatis ketika aku tertangkap nanti. Tapi tidak saat hari itu, mataku sepanjang perjalanan tidak bisa bekerjasama untuk tidur. Jikaiau dua orang bapak-bapak disampingku ingin berkomentar, mungkin mereka ingin bilang, untuk tidak berisik dengan tangisan yg berusaha aku pendam.
Langit sangat cerah. Di ketinggian awan yang aku tidak tau berapa, aku tersentak mengeluarkan handphone memotret awan, membuka aplikasi whatsapp dan mencari contact papa. Tapi kali ini aku benci dengan pikiran yang membuatku berbicara dengan diri sendiri "Papa kita di awan yang sama, Pa". Perjalanan dengan tidak tidur terasa lebih panjang dari biasanya. Langit sore indah sekali. Matahari terang, warna orange. Perjalanan menuju rumah terasa semakin berat, airmataku pecah lagi.
Tidak pernah terbayang olehku pulang dengan sambutan banyak kursi plastik di rumah, ada tenda di atasnya.
Aku sampai lebih dulu, Pa. Tapi aku menunggu.
Menunggu, Papa sampai di rumah, "Papa pulang..." tapi kali ini Papa diantar banyak orang.
Papa terlihat tampan seperti biasanya, pelukan kali ini dingin. Tangan Papa dingin.
Pagi Papa mandi, kegiatan paling Papa suka, lagi-lagi dibantu banyak orang.
Pakaian Papa putih, aku bantu merapikannya. Aku liat wajah Papa, tapi tidak bisa lagi.
Semua orang mengeliling Papa, Papa di kursi plastik yang dijejer, kain hitamnya bersih. Aku menghitung jumlah orang yang sholat, belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Kita naik mobil yang sama Pa, tapi kali ini bukan Papa pengemudinya. Juga bukan aku navigator-nya.
Ambulans ternyata berisik Pa, Tapi bapak sopirnya jago, sudah tua dia. Kita kebut-kebutan Pa, McLaren kalah si ini.
Aku bisa lihat ada banyak orang dibelakang kita. Tempat Papa dikeliling banyak tumbuhan hijau.
Bola tanah kepalanku hasilnya ternyata kecil.
Bunga Papa banyak sekali. Kali ini perginya jauh ya Pa, Papa sampai, Pa. Papa sampai lebih dulu di tujuan akhir.
Yang aku tau, kucing akan menjauhi untuk menyembunyikan kematiannya. Aku ingat bagaimana Papa membuat palang tanah untuk kucingku, aku ikut menggubur kalungnya yang dia pakai. Aku ingat, aku menangis dan seharian tidak mau makan. Tapi kehilangan kali ini membawa luka yang baru bagiku.
Aku tidak siap. Aku belum belajar.
Aku tidak tau apa-apa tentang bagaimana kehilangan itu muncul di kehidupanku. Semua orang kebingungan, aku benci ketika aku bingung. Aku tidak suka ketika aku tidak tau harus bertanya ke siapa dan hal seperti apa yang harusnya aku tanyakan.
Yang aku tahu, rasa kehilangan itu jahat. Dunia tetap harus berjalan seperti biasanya. Aku harus tetap melanjutkan semua kegiatanku. Aku pernah merasa marah ketika kehidupan orang-orang disekelilingku berjalan seperti biasanya ketika aku sedang berduka.
Namun semakin kesini aku belajar, ternyata pikiran seperti itu egois. Untuk minta dunia berhenti sebentar, sedang aku terpaku. Tapi aku cukup menyukai bagaimana aku harus mencari banyak hal baru untuk aku temui di waktu kosongku, agar aku tidak merasa sendiri dan hanyut dalam rasa kehilangan.
Agenda "Mental Health Awareness Month" pada bulan Mei adalah ruang untuk bertukar pikiran tentang perasaan dan kebingunganku.
Pada akhirnya, kita semua tidak tahu seberapa bagaimana mengantisipasi akan mengga lamibnya.
Semuanya membagikan ulasan dan apa yang mereka pelajari dari buku yang dibawa. "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" merupakan buku yang aku pilih pada event ini. Dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, memiliki background yang linear dengan karyanya.
Beliau seorang psikiater yang pernah mengalami griefing sepertiku, yang membuat buku ini terasa lebih menggat, seoiah berbicara dengan teman dekat atau seorang ahli yang penuh empati. Buku ini cukup membantuku untuk tau lebih banyak perihal griefing. Dr. Andreas menyambut orang-orang yang membaca bukunya dengan menamai bab pertamanya di buku ini yaitu "selamat datang di klub berduka".
Ada '2 Rules' sekaligus pelajaran baru yang aku dapat. Yang pertama, tidak boleh mengerdilkan kesedihan orang lain, dan yang kedua jangan ajari orang lain untuk berduka. Analogi yang Dr. Andreas paparkan tentang judulnya buku ini terkait dengan 5 stages of grief: Denial-Anger-Bargaining-Depression-Acceptance. Di mana, jalan menuju kesembuhan tidak selalu mulus, dan itu tidak apa-apa. Salah satu premis yang terukam jelas di ingatanku yaitu "Pada akhirnya, seseorang perlu melakukannya". Pada akhirnya, kita semua akan mengalaminya.
Buku ini memberikan gambaran untuk kita akan belajar menerima suatu kondisi yang dinamai duka dengan mindful serta sharing how to treat others yang sedang berduka. Bagiku, memproses duka itu cukup sulit. Tapi kita tidak harus buru-buru. We often forget sadness is a journey.