Menjawab Pertanyaan Susah
Tema buku anak-anak bulan April awalnya membuatku bingung harus bawa buku apa, namun setelah diskusi di grup Whatsapp, aku memilih Na Willa yang cover merah.
Acara dimulai sekitar pukul 17.00. Aku mendengarhkan Na Willa lain menenaikan buku-buku mereka. Na Willa sendiri berisi cerita-cerita pendek yang ditulis dari sudut pandang Na Willa, seorang anak kecil berumur lima tahun yang tinggal di sebuah kampung kecil di Surabaya tahun 1960-an. Dia tinggal bersama ibunya yang dipanggil Mak, dan seorang asisten rumah tangga yang dipanggil Mbok. Sementara ayahnya yang dipanggil "Pak" jarang ada di rumah karena urusan pekerjaan. Seperti umumnya anak kecil pada masa itu, Na Willa suka bermain bersama teman-temannya. Farida, Dul, dan Bud adalah nama-nama teman akrab Willa yang paling sering muncul di buku ini. Cerita yang paling aku suka adalah saat ia bertanya kenapa Mbak Tin malah menangis di pernikahannya. Tak lupa cerita Na Willa saat masuk TK, bertemu guru yang galak, membuatnya tidak nyaman dan ia sampai harus pindah TK, untungnya Willa menemukan TK yang menyenangkan.
Na Willa cover merah adalah buku pertama seri Na Willa dari Reda Gaudiamo. Ada juga Na Willa cover hijau dan cover pink. Saya membaca karya dari Reda Gaudiamo yang pertama, seperti kumpulan cerpen berjudul Potret Keluarga.
Reda memiliki fokus karya yang lekat dengan keluarga dan anak-anak. Menurutnya mendekatkan anak pada buku adalah pekerjaan rumah yang harus dipecahkan bersama. Hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah kehadiran literasi untuk anak berusia remaja. Reda bahkan mengatakan buku cerita anak kini tidak lagi berkutat dengan pesan moral untuk berbuat baik atau rajin ibadah. Sering ada anggapan bahwa anak-anak tidak mempunyai selera. Padahal menurut Reda, anak-anak mengerti mana produk literasi yang bagus, seru, dan menarik.
Baik Na Willa ataupun cerita teman-teman lain mengingatkanku pada masa kecil dulu. Banyak pertanyaan saat kecil yang tidak bisa dijawab orang dewasa, atau mungkin dijawab dengan jawaban yang tidak memuaskan kita di waktu kecil dulu. Aku juga sering bertanya, seperti Na Willa, "Apakah langit batas pandang manusia?", "Aku takut mati, apakah bisa kalau aku jadi orang baik langsung masuk surga tanpa harus mati dulu?". Kalau ditarik lagi sekarang di usia yang cukup matang, bagaimana cara yang baik untuk menjawab pertanyaan anak kecil yang susah susah itu? Yah, kita masih belajar bukan...
"Pimas Reading Partij" ini membuatku senang, acaranya santai, mengingatkanku dengan masa kecil. Masa kecil yang tidak takut akan inflasi, politik kantor, layoff, menjadi realistis, atau desak-desakan di transportasi umum. Tapi kita bukan Shinichi Kudo yang terperangkap di masa kecil terus kan? Hahaha. Kalau aku lihat, Detektif Conan hidupnya enak sekali, terperangkap dari 1994 sampai sekarang.
Aku senang sekali dengan tema ini, pastinya kita ingin dunia yang bisa ditempati anak cucu kita dengan layak kan? Demi menjaga ketulusan hati anak-anak, ketulusan yang semoga saja tetap abadi walaupun beranjak senja.