Negaraku Minta Persepuluhan
Harus aku akui, kawan: Kata-kata adalah pembawa pesan yang buruk untuk kebenaran
Dada Nabi perlu dibelah dan dicangki dan hingga kini masih bertikai umatnya tiada henti
Napas lekas punya hidupnya sendiri selepas lepas dari hela manusia
Ia mengembun, dan mendaun, dan merimbun yang terus terang bisa tergerus petang bila dibiarkan rabun
Semalam, kamu menciumku seolah keningku adalah paspor dan bibirmu adalah visa
Kita harus menciptakan kebebasan kita sendiri ketika negara tidak bisa
Apakah pergi itu egoistik? Semua temanku tidak percaya trickle-down economics tapi mereka termasuk yang mampu lari dari maraton berisotonik
Dan aku tidak keberatan dibilang hidup dalam gelembung perundunganku bila dipersekusi juga akan cari tempat berlindung
Seperti Persefone aku tahu kapan harus menarik diri dan kapan harus bersemi
Lihat saja— amarahku akan jadi akhiratmu dan bila kerajaanku datang yang akan jadi ahli waris dunia
Adalah sular-sular panjang akar-akar tunggang dahan-dahan senagang dan buah-buah matang
Siapa saja bebas menggigit Meski bukan manna wa salwa ini kebun punya kita bersama