← Back to Karya

Ngabu-Book Read

· #thesupperbookessay ·

Pesta membaca TSBC bulan Maret ini bertepatan dengan bulan Ramadan. Menariknya adalah perbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, lokasinya bertempat di satu rumah yang disewakan dengan nuansa seperti 'rumah nenek'. Jadi bagiku acara ini seperti perkumpulan sepupu yang buka bersama di kampung halaman. Rumah dua lantai dengan satu lantai berupa ruang tengah dan dapur, dan lantai dua berupa satu ruang komunal, dan rooftop dengan view garis langit kota Jakarta. Juga ada kucing si pemilik rumah yang kadang mampir dan turut bercengkrama dengan kita. Dua kata yang menggambarkan malam itu adalah meriah dan hangat!

Di Ngabu-Book Read kita membacakan buku dengan tema literatur Islam atau buku apapun yang berasal dari penulis Timur Tengah. Ada beberapa buku yang menurutku menjadi highlight di pertemuan ini, seperti Hamudi yang membawakan buku Iblis Menggugat Tuhan, yang dia baca sedari umur belia, membuat kita bertanya-tanya masa kecil seperti apa yang menariknya ke bacaan semacam itu. Ada Shayna yang membawa novel grafis klasik Persepolis, karya penulis Iran Marjane Satrapi. Ada juga Obe yang bercerita tentang Jokes for the Gunmen, buku yang berisi kisah-kisah absurd yang berlatar tentang perang di Lebanon.

Selepas dari acara ini diriku pun menyempatkan untuk membaca buku tersebut dan membuatku tergelak dalam tawa namun juga merasa sedih disaat yang bersamaan. Aku sendiri membawa buku Perempuan di Titik Nol, sebuah buku penting yang menceritakan tentang kondisi patriarki yang melanda Timur Tengah, yang sebenarnya sangat relevan dan masih terjadi di belahan dunia lainnya termasuk Indonesia. Buku yang cukup traumatis untuk dibaca namun menurutku harus dibaca oleh semua orang di dunia ini agar tidak menjadi brengsek.

Berbicara mengenai trauma, malam itu juga jadi trauma dumping bagi beberapa kawan yang datang. Sembari menikmati kudapan yang kita bawa masing-masing untuk berbuka puasa, kita berkumpul di lantai bawah (bercahaya terang) membahkan isi hati (khususnya Angel) yang bercerita tentang kisah romansanya. Kita (re : Kaum lelaki yang tersudut) mendengarkan di meja sudut ruang sembari mengobrol hal-hal yang lebih santai seperti manga, band favorit, dan sebagainya. Mengingat hal tersebut membuatku merasa kehangatan seperti inilah yang membuatku nyaman di kultus berkedok baca buku ini, dan malam itu menurutku jadi bagian dari core memory. Untuk menghormati vibes Ramadan, Akhirul Kalam Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bagikan / Share

Suka tulisan ini? Ikuti @thesupperbookcult untuk info gathering selanjutnya.

Reading Options