Tidak Ada Terjemahan Di Sini
Ulasan buku "Schild's Ladder" oleh Greg Egan
[Ulasan ini bebas dari spoiler, karena hampir semua yang ditulis di sini berasal dari chapter pertama]
Schild's Ladder bukan buku fiksi ilmiah yang memperkenalkan dirinya dengan lembut. Greg Egan menulis seolah-olah kita sudah hidup di masa depan, di mana segala sesuatu yang menjadikan manusia itu manusia yaitu identitas, keberlanjutan, waktu, qualia, dan bahkan konsep keberadaan itu sendiri, telah berubah total.
Buku ini dibuka dengan penggambaran sebuah objek matematika:
In the beginning was a graph, more like diamond than graphite. Every node in this graph was tetravalent: connected by four edges to four other nodes. By a count of edges, the shortest path from any node back to itself was a loop six edges long. Every node belonged to twenty-four such loops, as well as forty-eight loops eight edges long, and four hundred and eighty that were ten edges long. The edges had no length or shape, the nodes no position; the graph consisted only of the fact that some nodes were connected to others. This pattern of connections, repeated endlessly, was all there was.
Di mana objek ini, Graf Berlian, berasal dari Sarumpaet Rules pada gugus-rumusan Quantum Graph Theory (QGT), yaitu hasil pengawinan Relativitas Umum (GR) dengan Mekanika Kuantum (QM). Dengan kata lain, bayangkan sebuah masa depan di mana hukum-hukum QM dan GR sudah dikawinkan oleh sebuah Teori Segalanya yang menjadikan keseluruhan fisika akhirnya masuk akal.
Nah, Graf Berlian ini adalah batu bata atau building block paling kecil dari alam semesta pada novel. Seperti digambarkan pada kutipan, Graf Berlian adalah seperangkat pola-pola dari hubungan antar simpul (node) tanpa bentuk, tanpa ruang, tanpa sisi, tanpa waktu, tanpa energi, dan tanpa massa benda — kemudian, tiap-tiap simpulnya mempunyai jumlah hubungan (valence) yang sama. Maka itu dalam Schild's Ladder, unit paling dasar dari keberadaan bukanlah partikel-gelombang atau energi, bukan juga string, tetapi relasi murni antar simpul yang tidak mempunyai analogi fisik. Ruangwaktu yang kita kenal selama ini hanya muncul ketika kita melihat susunan geometri mahakecil ini dari jauh.
Konsekuensinya, tentu keberadaan (ontologi) segala sesuatu menjadi goyah, di mana batu bata fisika "hanyalah" pola dan bukan materi per se: Egan secara tidak langsung menawarkan pertanyaan: bagaimana jika tidak ada perbedaan yang mendasar antara informasi, wujud fisik (materi), dan relasi antar-hal? Bagaimana jika perbedaan tersebut sebenarnya tidak make sense?
Bukan 100% fiksi, karena beberapa riset fisika teoritis di dunia nyata memang sedang mengulik hal-hal yang (secara struktural) lumayan mirip. Misalnya, dalam loop quantum gravity (LQG) yang menjadi inspirasi Egan pada Quantum Graph Theory (QGT) tadi, ruang dan waktu juga dianggap tidak kontinu (diskrit), melainkan terbuat dari jaringan spin (spin networks): graf yang sisi-sisinya membawa label matematis dari grup SU(2) yang menentukan kuanta luas dan volume. Atau dalam teori causal set, yang dipertimbangkan hanyalah urutan "siapa mendahului siapa" antar peristiwa, sementara ukuran jarak atau durasi muncul belakangan sebagai emergent property, sebagai epifenomena.
Intinya: ada kemiripan sedikit, yaitu bagaimana hal yang paling dasar dari semesta bukanlah sebuah hal fisik yang menempati ruangwaktu, tetapi justru pola hubungan/relasi itu sendiri. Ruang, waktu, partikel, atau gelombang hanyalah hasil dari pola-pola itu bila dilihat dari jauh; seolah-olah sang Maha Arsitek adalah matematikawan murni yang cinta terhadap keanggunan abstraksi, atau justru terbalik — keanggunan abstraksi-lah yang merupakan sifat-Nya; matematika hanyalah kanal sensorium lucu yang diberikan kepada manusia untuk Memahami.
Para Pelanggar Realitas
Segera setelah penggambaran Graf Berlian, Cass, protagonis pertama kita, bepergian di luar angkasa dan masuk ke Stasiun Antariksa Mimosa:
…Cass had traveled to Mimosa Station, half a light-year from the blue subgiant for which it was named, three hundred and seventy light-years from Earth. Mimosa Station had so little room to spare that she'd had to settle for a body two millimeters high, which rendered her vision less acute than usual. The combination of weightlessness, vacuum, and insectile dimensions did make her feel pleasantly robust, though: her mass had shrunk a thousand times more than the cross sections of her muscles and tendons, so the pressures and strains involved in any collision were feather-light. Even if she charged straight into a ceramic wall, it felt like being stopped by a barricade of petals.
Cass hidup pada peradaban paska-Quantum Graph Theory (theory of everything tadi) yang memungkinkannya mengecilkan massa tubuhnya sampai seribu kali lipat (setinggi dua milimeter) tanpa mempengaruhi keberlanjutan dari kesadarannya (consciousness).
Ia datang ke Stasiun Mimosa untuk menjalankan serangkaian eksperimen yang mencari tahu apakah QGT punya pengecualian, dan jika memang punya, Cass dan peradabannya kemudian dapat membuktikan bahwa pembuatan ruangwaktu yang sama sekali baru bukanlah hal yang mustahil.
Sebuah ruangwaktu yang tidak berdasar pada gugusan sebab-akibat yang kita ketahui selama ini; sama sekali asing. Ini kelihatan remeh, tetapi fisika pada realita kita sangatlah ketat terhadap simetri-simetrinya sendiri. Kesalingterikatan hukum-hukum fisika dasar-lah yang menyalakan neuron, membakar matahari, dan membuat waktu mengalir dengan rutin dan dapat diandalkan. Jika kita congkel kemudian ubah salah satu rumusan dasarnya, dampaknya pasti menjalar ke mana-mana. Ikatan-ikatan kimia bakal lepas, bintang akan terbakar dengan cara asing, bahkan mekanisme waktu pun niscaya berubah dengan cara yang tidak intuitif. Semesta kita, after all, adalah sebuah kediktatoran sebab, akibat, simetri, dan konsistensi.
Dalam konteks ini, Cass menjelma sebagai Ikarus abad ke-xx yang mencoba mengutak-ngatik proses fisi matahari. Jika ia berhasil, tidak ada satupun makhluk Tuhan tahu tentang kengerian apa, if any, yang akan lepas dari tirani simetri.
Mengulik Kesadaran
Untuk mengetes pelanggaran QGT, ia harus meminta izin kepada para penghuni Mimosa, yaitu Rainzi dan kawan-kawan, para paska-manusia (posthumans) yang substrat di mana kesadaran mereka "dijalankan" bukan lagi otak dan daging, melainkan dari materi lain. Contohnya, kesadaran mereka bisa saja dijalankan dari mesin berskala femtometer (10⁻¹⁵), sekecil nukleus atom.
Yes, you read that right. Pada abad entah ke berapa, mereka bisa menjalankan kesadaran bukan hanya dari otak maupun silikon, namun pula dari mesin-seperti-komputer yang terbuat dari dan memanipulasi gaya nuklir kuat, medan kuark, dan hal-hal sangat kecil lain yang kemudian dijadikan gerbang logika, sensor, dan seterusnya.
Buku ini ditulis tahun 2002 dan sejak itu, kita sudah bisa membangun gerbang logika (logic gates) dari material yang tidak baku seperti seperti molekul organik, cahaya (photonic computing), bahkan DNA. Tentu kemampuan menjalankan gerbang logika sama sekali tidak-sama dan bahkan jauh, jauh, jauh lebih mudah daripada tantangan sebenarnya yaitu menyalin kesadaran manusia. Tetapi karena fiksi ilmiah, mari sejenak menahan diri untuk protes. Dalam Schild's Ladder, mereka mampu menyalin kesadaran mereka di berbagai substrat, tempat, dan waktu; lengkap pula dengan backup. Kemampuan penyalinan ini membuat para paska-manusia seperti Rainzi dan kaum Stasiun Antariksa Mimosa tidak berusaha mempertahankan keberlanjutan dan/atau ketunggalan kesadaran, melainkan mereka justru merangkul percabangan dan penyalinan.
Bahwa membuat salinan kesadaran, menyebarkannya ke berbagai lokasi, dan membiarkan versi-versi berbeda berevolusi secara independen, kemudian kadang-kadang menyatukannya lagi adalah hal biasa. Keberlanjutan (continuity) dan ketunggalan kesadaran tidak dianggap sakral, karena yang penting mereka mempunyai redundansi, bisa menjelajahi semesta, dan mengalami hal-hal yang lucu-aneh sebanyak mungkin sampai seluruh salinan mereka mati dan/atau kewarasan mereka terdegradasi dari beban memori-menjadi-abadi.
Aku Makhluk Menunggal
Cass, yang bukan penghuni Mimosa, punya preferensi keberlanjutan berbeda.
Ia rela mengecilkan massanya sebanyak seribu kali lipat karena ia ingin tetap menjalankan kesadarannya pada suatu bentuk yang tidak mengambang, walaupun hanya setinggi dua milimeter (karena kurangnya ruang di Mimosa).
Bukan itu saja: Cass mempunyai perangkat Qusp, sebuah alat dekoherensi paksa sehingga keputusan yang ia ambil benar-benar tunggal, sehingga ia menjadi makhluk menunggal secara harfiah, bebas dari tirani superposisi—berbeda dengan manusia abad ke-21 yang — secara teknis dan pada skala terkecil aktivitas neuron — mewujud secara bersamaan pada total "percabangan" amplituda yang berbeda-beda pada satu waktu.
Dideskripsikan oleh Egan:
Cass dated the advent of civilization to the invention of the quantum singleton processor. The Qusp. She accepted the fact that she couldn't entirely avoid splitting into multiple versions; interacting with any ordinary object around her gave rise to an entangled system--Cass plus cloud, Cass plus flower--and she could never hope to prevent the parts that lay outside her from entering superpositions of different classical outcomes, generating versions of her who witnessed different external events.
Unlike her hapless ancestors, though, she did not contribute to the process herself. While the Qusp inside her skull performed its computations, it was isolated from the wider world--a condition lasting just microseconds at a time, but rigidly enforced for the duration--only breaking quarantine when its state vector described one outcome, with certainty.
With each operating cycle, the Qusp rotated a vector describing a single alternative into another with the same property, and though the path between the two necessarily included superpositions of many alternatives, only the final, definite state determined her actions.
Being a singleton meant that her decisions counted. She was not forced to give birth to a multitude of selves, each responding in a different way, every time she found her conscience or her judgment balanced on a knife edge. She was not at all what Homo sapiens had actually been, but she was close to what they'd believed themselves to be, for most of their history: a creature of choice, capable of doing one thing and not another.
Makanya, salah satu motif utama dalam Schild's Ladder, seperti namanya, adalah soal identitas dan keberlanjutan makna dalam dunia yang memungkinkan percabangan tanpa batas. Sounds familiar?
Nama Schild's Ladder sendiri, judul novelnya, diambil dari nama proses matematis yang berfungsi sebagai satu metode dari beberapa metode parallel transport. Parallel transport itu apa? Yaitu bagaimana sebuah vektor (anggap saja arah) bisa dipindahkan secara halus, bahkan pada ruang yang melengkung, tanpa mengubah arah vektor tersebut.
Maksud?
Bayangkan sebuah gambar panah. Kiri, kanan, atas, doesn't matter. Gambar panah ini kita print di kertas A4, kemudian kita letakkan pada permukaan sebuah meja. Untuk memindahkan gambar panah ini dari satu ujung meja ke ujung yang lain, cukup mudah: tinggal geser kertas.
Jika kita ingin menjaga supaya arah gambar panah itu tetap ke kiri atau ke kanan, maka tentunya jangan kita bolak-balikkan, putar, robek, atau jatuhkan kertas. Kita secara hati-hati menggesernya sejajar dengan permukaan meja.
Dengan kata lain: kita menjaga agar orientasi gambar panah tidak berubah saat ia berpindah posisi. Ini gampang, karena meja kita datar. Ruang-nya Euklid.
Tapi sekarang bayangkan ketika kita melakukan hal yang sama di atas sebuah bola, atau globe dunia. Ambil titik acak di ekuator, gambarlah panah (sebenarnya bukan panah, tetapi vektor) yang mengarah ke utara. Lalu geser panah itu ke kutub utara, belok ke titik lain di ekuator, kemudian kembali ke titik semula.
Hasilnya memang tidak intuitif, tetapi panah itu tidak lagi menunjuk ke arah semula. Vektor telah berubah, padahal kita tidak pernah memutarnya per se. Ini adalah efek kelengkungan ruang: vektor terdistorsi secara lokal, bukan karena kita sengaja memutarnya, tapi karena ruang itu sendiri melengkung.
Dan ruangwaktu, seperti kita telah temukan, adalah suatu proses yang bisa dideskripsikan sebagai melengkung sana-sini secara tidak intuitif.
Nah, Schild's Ladder adalah metode tertentu untuk menjalankan proses parallel transport ini, tapi di mana/cuma boleh menggunakan geometri dasar.
Bukan menggunakan kalkulus (yang lebih canggih), melainkan hanya dengan menempatkan serangkaian segitiga atau jajaran genjang kecil dari suatu lintasan geodesik yang kemudian dipakai untuk memperkirakan bagaimana caranya vektor kita, arah kita, bisa dipertahankan. Metode ini bisa dibilang primitif, karena ia ngotot menggunakan bentuk geometri dasar untuk memperkirakan suatu proses yang membutuhkan kalkulus agar hasilnya benar-benar akurat.
Dengan kata lain, secara filosofis, ini adalah pertanyaan: "Jika diri dipindah ke waktu dan ruang yang lain, atau kepada substrat penjalan-kesadaran yang lain, atau dipindah ke suatu keadaan yang bahkan keberadaannya secara fundamental sangat berbeda, maka, apakah ia masih aku?"
Lebih jauh lagi: "aku" di dalam konteks parallel transport bukan identitas, melainkan arah atau intentionality. Niat, arah, keberlanjutan, tindakan. Beberapa kepercayaan di dunia juga telah struggle dengan pertanyaan ini: jika identitas atau kedirian (selfhood) itu ternyata tidak permanen — ternyata bisa benar-dan-salah sekaligus — maka apa yang tersisa dari manusia?
Di dunia nyata juga ada pandangan seperti ini, misalnya konsep anatta atau tidak-diri dari Buddhisme. Bahwasanya panggilan "aku" sebagai keberadaan yang solid dan permanen adalah kesalahpahaman yang muncul karena terbatasnya pandangan manusia, bahwa "aku" atau "diri" adalah gabungan proses-proses kedirian seperti sensasi, pikiran, ingatan, niat, dan tindakan yang terus berubah dan saling bergantung dan berkesinambungan satu sama lain, and therefore both real and not-real at the same time.
Kembali ke laptop Schild's Ladder. Cass sendiri adalah parallel transporter yang puritan. Ia percaya bahwa hanya dengan menjaga arah moral dan epistemik melalui satu arahan tetap tanpa penyalinan kesadaran/backup/penggabungan kembali versi-berversi, maka kesadaran tetap bisa bermakna: karena keberlanjutannya menunggal.
Ia ingin menjadi arah yang tetap mempertahankan kearahannya, walaupun telah mengalami kelengkungan lingkungan. Maka Qusp yang ia miliki bukan sekadar alat, namun perisai terhadap kesantaian pilihan moral ke dalam kejamnya percabangan/hukum amplituda kuantum. Ia ingin agar tindakannya benar-benar miliknya, bukan milik total dari semua distribusi pilihan yang bisa mewujud, entangled. Part philosophy, part madness.
(yang secara kebetulan juga plot point dari salah satu film favorit saya, Semuanya Dimanapun Saja Pada Saat Bersamaan)
Sebaliknya, kaum Stasiun Mimosa tidak tertarik mempertahankan arah/vektor/diri yang tetap. Bagi mereka, arah itu tiada artinya jika substrat penjalan-kesadaran dapat dibuat beragam, opsional, dan redundan.
Jika ada kelengkungan epistemik atau spiritual sepanjang hidup mereka yang panjang (bahkan Cass saja digambarkan mempunyai umur lebih dari beberapa ratus tahun), mereka menerima apa adanya. Dengan demikian, "konflik" Cass vs. Rainzi bukan soal siapa yang benar, tapi soal apakah ada makna dalam menjaga arah dan niat di alam semesta yang mendorong kita untuk selalu bercabang dan sepertinya tidak terlalu menghukum atau memberikan hadiah kepada kita sebagai konsekuensi penjagaan tersebut; optionalitymaxxing.
Let There Be Light
Plot novel berlanjut: untuk mengetes apakah ada pelanggaran QGT, mereka menggunakan mesin Quietener untuk menciptakan "zona tenang". Mesin ini meredam segala macam fluktuasi kuantum yang alami (termasuk radiasi gamma) dan sebagai akibatnya menciptakan sepotong ruangwaktu terisolasi penuh, sehingga eksperimen Cass dapat mengukur: apakah ia bisa membuat penyimpangan dari fisika-yang-sudah-ada?
Cass mencoba membuat vakum jenis baru yang secara teori akan tidak stabil (hanya bertahan pada waktu sangat sebentar sebelum jadi vakum biasa), yaitu sesuai prediksi QGT. Tetapi hasilnya malah berlawanan: vakum baru itu justru stabil sempurna. Yang lebih buruk, vakum tadi, sekarang diberi nama novo-vacuum, mulai mengembang sebagai bola/gelembung dengan hukum fisika yang berbeda, menelan ruangwaktu di sekitarnya dengan kecepatan setengah cahaya. Cass, Ikarus kita, telah menelurkan bencana kosmik luar biasa besarnya.
Well, bencana untuk semesta kita, anyway. Vakum novo ini ternyata lebih rendah energinya daripada vakum biasa pada alam-kita. Hal ini mengakibatkan pemahaman konseptual baru: alam semesta kita bukanlah rumusan optimal dari kenyataan (tidak metastable), melainkan hanya satu dari banyaknya kemungkinan penyusunan; Graf Berlian hanyalah satu dari banyaknya kemungkinan Graf.
Sekali lagi: gelembung vakum novo ini mempunyai hukum fisika yang berbeda: konstanta-konstanta fundamental, kecepatan cahaya, interaksi partikel, bahkan struktur ruangwaktu itu sendiri berubah di dalamnya. Tidak ada cara untuk menghentikan proses ini, karena transisi menuju keadaan energi yang lebih rendah bersifat spontan dan tak terbalikkan. Gelembung yang mengembang dengan kecepatan setengah cahaya ini membunuh bukan hanya semua materi dan kehidupan yang disentuhnya, tapi seluruh kerangka hukum fisika di wilayah itu. Dari sudut pandang bagian semesta kita, bagian yang sudah dimakan oleh vakum novo bukan lagi diubah, melainkan terputus penuh secara sebab-akibat dari yang lama.
Ini adalah latar belakang Schild's Ladder di chapter pertama: sebuah eksperimen oleh Cass yang tidak sengaja membentuk alam semesta baru.
Dalam enam abad setelah (yang kemudian disebut sebagai) eksperimen Mimosa, gelembung vakum novo terus menyebar tanpa pelambatan apa-apa. Sistem bintang demi sistem bintang hilang termakan oleh vakum novo ini, dan kengerian yang akan kita jelajahi pada novel ini pada kemudian-chapter adalah: jika hukum-hukum lama fisika hanyalah kebetulan metastabil (metastable dan/atau sebut saja locally optimal) kemudian jika tercipta alam-alam semesta baru yang mungkin saja lebih baik, what does that mean for us? Well, maybe the question itself is moot.
Persamaan dan Perbedaan
Karena apabila kita ingin melanglang buana kepada alam-alam semesta baru ini, apakah mungkin bisa? Mampukah mempertahankan arah (vektor), niat, dan kedirian pada Hutan Baru yang Kejam? Bisakah kita masuk ke dalam sebuah sistem Kafkaik dan keluar daripadanya tanpa dirubah secara mendasar?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita akan intermezzo kepada bukunya Hofstadter tentang persamaan, perumpamaan, dan konsep, yaitu Surfaces and Essences.
Persamaan?
Ya, persamaan. Ungkapan "ini seperti itu", "rumput lembah ini hijau seperti zamrud", atau "cintamu bagaikan lautan".
Pembangun dasarnya sederhana: ambil dua hal, lalu tarik garis persamaan di antara mereka. Bahkan matematika dasar pun dimulai dari persamaan macam "3+5=8", karena jika kita bisa membedakan, maka kita bisa menyamakan.
Segala upaya untuk mendeskripsikan dunia, baik dengan bahasa sehari-hari maupun melalui rumus-rumus ruwet, mempunyai dasar penarikan garis antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Tanpa persamaan dan perumpamaan, kita tidak bisa membuat suatu istilah atau konsep yang kemudian bisa dipahami oleh orang lainnya. Kita tidak bisa merujuk kepada pohon dan bilang "INILAH POHON", karena tanpa perbedaan dan persamaan, tidak ada yang membedakan istilah pohon dengan puluhan ribu kata lainnya. Kita pahami pohon sebagai pohon karena pohon itu bukan-rumput, bukan-batu, bukan-angin, bukan-daun, dan seterusnya. Kita memahami pohon sebagai pohon karena kita menyamakan istilah pohon dengan hal-yang-hijau, hal-yang-banyak-daun, hal-yang-mempunyai-bentuk-tertentu, hal-yang-mempunyai-gerak-tertentu-ketika-diterpa-angin, dan seterusnya.
Dengan sedikit pengetahuan geometri, kita bahkan bisa mendefinisikan bentuk pohon sebagai:
…graf geometri tertanam dalam R³, di mana tiap batas adalah kurva halus berparameter panjang busur, dan percabangannya mengikuti aturan deterministik soal arah, panjang, dan diameter. Bentuk globalnya bisa ditentukan secara penuh melalui sistem rekursif deterministik berbasis fungsi geometri dasar (rotasi, skala, translasi, dan kelengkungan)
Lumayan repot. Bahwa manusia bisa mengenali pohon dan menamakan itu pohon adalah hal yang ajaib dan bukan sesuatu yang pantas taken for granted!
Anyway. Apa hubungannya dengan Schild's Ladder?
Novel ini mengguncang banyak gugusan intuisi. Dalam vakum novo, apa yang dimaksudkan sebagai "keberadaan" atau "makna" itu sendiri bisa sama sekali berbeda tanpa ada terjemahan.
Ancaman vakum novo bukan hanya soal kematian seluruh makhluk hidup atau kehancuran banyak planet yang dihuni manusia, melainkan kehancuran makna. Seluruh graf makna yang membentuk realitas kita, mulai dari rumusan fisika, kimia, ataupun konsep sehari-hari seperti "pohon", "warna hijau", dan "cinta".
Begitu hukum dasar berganti, gugus-gugus persamaan yang kita bentuk dari kecil untuk memahami dunia akan kehilangan koherensi. Jika pohon yang kita pahami sekarang adalah organisme dengan sel, klorofil, dan fotosintesis berbasis karbon, di dalam vakum novo mungkin "pohon" tidak ada padanannya sama sekali. Atau lebih parah: sesuatu yang secara struktural mirip pohon tentu ada, tetapi berdiri di atas rangkaian sangat panjang dari sebab-akibat Fisika Baru yang tak bermakna untuk diterjemahkan ke semesta kita. Hence the title of this review.
Makanya dalam konteks ini, preferensi keberlanjutan dan kemenunggalan Cass demi mempertahankan arah atau vektornya bukanlah metafora semata, tetapi sebuah pertanyaan praktis: bagaimana caranya mempertahankan arah atau kedirian ketika lingkungan kita berubah dan melengkung drastis tanpa ada terjemahan sama sekali?
Atau, dalam konteks vakum novo: apakah "arah" itu punya makna jika ruangwaktu didefinisikan ulang jadi sama sekali berbeda?
Sedikit spoiler: ya, beberapa dari tokoh utama kita akan berkelana ke dalam vakum novo tersebut dan menemukan hal-hal yang sama sekali baru.
Kebermungkinan Sejati
Setiap karya tulis yang hebat selalu membuat pikiran kita berkicau liar: mungkin secara tidak sengaja dan tidak dimaksudkan oleh penulisnya, tetapi sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari apa yang dibicarakan oleh karya itu sendiri.
Kita membaca, melihat, atau mengalami sesuatu, lalu tiba-tiba menyadari bahwa gagasan yang baru saja menjejak di kepala mulai beranak-pinak, merambat ke arah-arah imajiner baru. Schild's Ladder adalah salah satu contoh terbaik dari fenomena ini, yaitu sebuah premis fisika yang tampak steril dan teknis, tapi dalam sebuku saja telah berhasil membuka kotak-kotak Pandora tentang keberadaan, arah, dan makna itu sendiri.
You have to read it yourself. Bagai kisah Arjuna, Cass dan Rainzi dan tokoh-tokoh utama belakangan lainnya bukanlah tokoh yang berwujud secara tunggal, melainkan konstruk proyeksi dari sang pembaca yang diciptakan sebagiannya secara intersubjektif. Apapun hikmah, moral, atau kesenangan yang dapat diangkut dari novel ini untuk satu orang, tentunya berbeda dan mungkin tidak terdapat terjemahan pengangkutannya jika dibandingkan dengan orang lain.
Dan di situlah uniknya: novel ini, tapi juga to a lesser degree semua tulisan dan fenomena lain di dunia, memaksa kita untuk mempertanyakan bukan hanya apa yang benar di dalam cerita, tetapi juga bagaimana kita memutuskan bahwa sesuatu bisa benar atau dipahami. Ia membuat kita membayangkan bahwa mungkin saja makna, arah, dan keberadaan tidaklah mutlak-tetap, melainkan emergent property dari gugusan interaksi simpul-simpul semesta secara keseluruhan — simpul-simpul yang kadang bisa runtuh secara tidak sengaja.
Serta sebagaimana vakum novo merembet tanpa henti, demikian pula gagasan dan pemahaman yang sudah kita serap dapat merambat, mengganti konstanta-konstanta kedirian, dan mungkin menciptakan apa-apa yang sebelumnya tidak terbayangkan. Maybe what it takes is a little bit of faith and openness.
Sebab jika dasar-dasar realita saja bisa berubah, maka satu-satunya cara untuk bergerak adalah dengan bergerak dengan (hati) terbuka, bukan berdiam diri. Yang diperlukan untuk sekarang hanyalah mengambil satu langkah saja.